Desain Anak: Inovatifnya Pembelajaran
Tak Berkategori Tagged inovatifnya pembelajaran, desain anak Maret 26th, 2009Oleh FX Aris Wahyu Prasetyo - 25 Maret 2009
Maraknya iklan di telivisi dan media cetak menjadi fenomena tersendiri di kalangan masyarakat. Bahkan beberapa pernyataan ataupun gerak tubuh (gesture) menjadi trend tersendiri di kalangan masyarakat, khususnya anak muda. Fenomena itu sangat nyata dan tentunya tidak boleh dilewatkan begitu saja. Mengapa demikian?
Fenomena apapun yang ada di masyarakat dapat dijadikan sebagai sebuah media pembelajaran yang menarik dan atraktif di kelas. Pembelajaran hendaknya didesain seiring dengan perkembangan masyarakat dan dunia global. Inilah yang mestinya disadari bahwa pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang dapat mengikuti perkembangan zamannya. Tak ada model pembelajaran yang pasti dalam dunia pendidikan karena pendidikan ada di dalam putaran peradaban yang selalu berubah setiap detiknya.
Iklan sudah waktunya masuk ke kelas-kelas sebagai sebuah dinamika pembelajaran yang bermakna. Bagaimana mungkin itu terjadi? Sekolah bukanlah sebuah perusahaan yang menghasilkan produk tertentu yang kemudian diiklankan untuk menarik minat masyarakat untuk membelinya. Memang, hal itu sangat tepat sekali karena sekolah adalah tempat anak-anak belajar tentang kehidupan nyata melalui berbagai media yang ada.
Dalam konteks ini, iklan hanyalah akan menjadi sebuah media belaka, yakni media untuk belajar tentang kehidupan nyata itu sendiri. Uniknya, iklan juga menjadi fenomena nyata yang ada di masyarakat. Lebih dari itu, iklan dapat menjadi sarana kritis atas fenomena itu sendiri. Tanpa kekritisan itu, masyarakat dapat terjebak pada sebuah situasi di mana tak bisa mengatur gaya hidupnya sendiri karena terbawa arus begitu menariknya apa yang ditawarkan.
Kelas Iklan
Suatu ketika, sebuah kelas begitu meriahnya dengan tempelan iklan dari berbagai media cetak dengan berbagai produk dan jasa yang ditawarkan. Dengan seketika itu juga, kelas telah disulap menjadi ruang layaknya sebuah bazaar atau pameran. Seolah-olah iklan-iklan itu tidak mau kalah dengan garuda pancasila yang sudah terpajang lama di kelas itu. Bahkan, iklan-iklan itu pun siap bersaing dengan gambar pahlawan, presiden, dan wakil presiden yang tampak tersaingi dengan iklan-iklan itu..
Setelah semuanya terpajang dengan rapi, anak-anak itu pada akhirnya hanya bisa memandangi iklan-iklan itu tanpa tahu apa yang harus diperbuat selanjutnya. Di tengah kebingungan itu, sang guru hanya mengatakan bahwa itu semua merupakan sebuah realita yang ada di masyarakat. Selanjutnya, guru itu mulai menceritakan berbagai iklan di televisi yang mendidik dan kurang mendidik, atau yang logis dan tidak logis. Tak urung di sela-sela cerita itu, gelak tawa para siswa pun meledak.
Beli dua dapat satu, sebagai salah satu contoh. Sang guru berujar, Wah rugi donk. Mendingan kita beli satu saja. Kelas pun serempak mentertawakan ketidaklogisan itu. Begitu banyak fenomena iklan yang didiskusikan di kelas itu. Itu disampaikan sang guru rupanya sebagai wacana awal untuk para siswa dalam melakukan aktivitas berikutnya dalam pembelajaran pagi itu.
Tiba saatnya anak-anak membuat kelompok kecil yang terdiri dari tiga orang. Dan, ternyata mereka akan mendesain sebuah produk atau jasa tertentu dan pada saatnya nanti akan mempromosikan di depan konsumen dengan salah satu medianya iklan yang mereka rancang. Spontan saja, kelas menjadi riuh dan tampak antusiasme anak-anak menanggapi rancangan pembelajaran pagi itu. Imaginasi dan idealisme mereka pun mulai membara dalam diskusi kelompok kecil itu.
Ada yang berusaha membuat inovasi dari produk atau jasa yang ada, seperti membuat rokok bebas nikotin, minuman kecerdasan, handphone dengan fasilitas tercanggih, dan masih banyak lagi. Senang rasanya melihat begitu bebas dan bahagianya mereka menyelusuri imaginasi mereka yang akan dituangkan dalam kelas iklan pagi itu.
Potensi Besar
Setelah memiliki beberapa hari menyiapkan semuanya, tiba saatnya anak-anak mempromosikan apa yang mereka buat di depan kelas layaknya sebuah promosi di depan konsumen sungguhan. Dengan waktu yang sudah ditentukan, masing-masing kelompok akan mempresentasikan produk atau jas yang mereka rancang dan menampilkan iklan mereka lalu dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab dari siswa yang lain sebagai konsumen.
Ada banyak hal yang tak terduga dalam presentasi itu. Anak-anak bisa melakukan lebih dari apa yang sang guru pikirkan. Kreatifitas dan inovasi mereka sangat menonjol dalam desain dan iklan mereka. Bahkan, mereka mampu menonjolkan nilai-nilai luhur dari produk atau jasa yang mereka tawarkan.
Sebuah kelompok mencoba merancang wisata budaya dengan setting lokal yang ada. Kota lama merupakan lokasi di mana banyak bangunan peninggalan pemerintah Belanda yang terbengkalai. Kelompok itu merancang begitu detail dan menarik dengan menjadikan kota lama sebagai sebuah wisata lokal. Bahkan, mereka pun mampu mendesain iklan wisata budaya dalam bentuk cetak dan multimedia dengan beberapa animasi.
Ada kelompok lain yang berusaha meyakinkan konsumen dengan produk handphone multifungsi, yang mengkombinasi handphone itu sendiri dengan laptop, kamera tele, bahkan sampai beberapa aplikasi pemrograman yang begitu mutakhir. Dengan segala keuntungan dan kecanggihannya, kelompok itu berusaha meyakinkan konsumen. Uniknya, mereka mencoba menampilkan iklan dengan multimedia yang dibuat seperti sebuah film pendek yang begitu animatif. Akhirnya, dalam iklan itu dikatakan bahwa film itu dibuat hanya dengan handphone tersebut. Sebuah iklan yang sangat cerdas.
Kelas iklan itu benar-benar telah menguak potensi anak-anak akan imaginasi dan idealisme mereka. Mereka merasa diberi kebebasan dan keleluasaan untuk mengembangkan apa yang mereka pikirkan dan angan-angankan. Mereka tidak merasa dipaksa tetapi malah justru didukung. Dan yang sangat penting adalah mereka bisa mengukur kemampuan mereka sendiri dan mengekspresikannya.
Ketika dalam kelompok tidak ada yang mampu mendesain iklan dengan multimedia maka mereka mencoba mendesain dengan ujicoba dan iklan cetak. Seperti yang terjadi di salah satu kelompok, mereka mencoba menawarkan alat penguji kadar kesehatan air minum. Tujuan kelompok ini adalah membantu keluarga terhindar dari bakteri yang terkandung dalam cairan. Mereka melakukan uji coba di depan konsumen dengan menguji dua jenis air yang berbeda.
Pembelajaran Kolaboratif
Kelas iklan telah menjadikan anak-anak belajar secara kolaboratif di mana mereka tidak hanya belajar tentang satu mata pelajaran saja. Sebagai salah satu contoh saja, proyek Wisata Budaya untuk kota lama dapat menjadi wujud kolaborasi antara mata pelajaran Bahasa Indonesia, Ekonomi, dan Sejarah. Anak-anak akan belajar teknik promosi atau presentasi yang baik, prinsip-prinsip marketing yang jitu, dan sejarah dari kota lama itu sendiri.
Atau dengan cara berpikir yang dibalik, apa yang diperbuat kelompok itu dapat menginspirasikan guru-guru untuk mendesain pembelajaran yang kolaboratif dengan melakukan sebuah observasi tentang peninggalan sejarah yang ada. Hal itu menempatkan masing-masing mata pelajaran memiliki bidang kajiannya masing-masing, yakni Bahasa Indonesia akan fokus pada cara mereka presentasi, Ekonomi mencoba melihat prinsip-prinsip marketing mereka, dan Sejarah mencoba fokus pada aspek-aspek historis yang ditonjolkan oleh kelompok itu. Dengan demikian, membuat pembelajaran efektif dan mengurangi beban anak didik karena dengan satu tugas mencakup tiga mata pelajaran sekaligus.
Akhirnya, ada banyak jalan untuk menjadi inovatif dalam mendesain pembelajaran untuk anak-anak didik kita. Jangan biarkan anak-anak merasa bosan, mengantuk, lelah, dan akhirnya benci dengan mata pelajaran tertentu karena alasan metode yang dipakai tidak menarik! Jadikan mereka bebas dan leluasa dengan imaginasi dan idealisme muda mereka lewat pembelajaran yang tetap bermakna dan terarah! Selamat berinovasi.