Oleh FX Aris Wahyu Prasetyo - 26 Maret 2009
Siang itu tampak beberapa siswa sibuk dengan diskusi diselingi canda tawa. Siswa yang lain tampak asyik membuat desain, sepertinya sedang merancang tata letak dan ornamen panggung. Siswa yang lain asyik membuat komposisi musik. Di pojok yang lain, ada beberapa siswa tampak sedang sibuk dengan dialog yang diulang-ulang, bahkan ada yang berperan bak seorang sutradara. Tampaknya kelompok siswa itu sedang asyik melakukan latihan sebuah adegan.



Itulah sebuah kesibukan kelas di saat awal-awal persiapan untuk sebuah pentas drama kelas. Masing-masing kelas akan mementaskan sebuah pertunjukan drama dengan mengangkat tema cerita tertentu. Tampak sekali antusiasme para siswa karena mereka bisa merancang segala sesuatunya sesuai dengan imaginasi mereka. Selain itu, menjadi sebuah kebanggaan tersendiri karena pertunjukkan itu terbuka untuk ditonton oleh seluruh siswa, guru, dan karyawan di sekolah itu.

Nilai Kehidupan

Tampaknya pementasan drama ini hanya sekedar pertunjukan biasa. Benarkah demikian? Ternyata tidak sesederhana itu karena di balik semua proeses dari persiapan, pementasan, dan evaluasi itu, para siswa mendapatkan pelajaran berharga yang pastinya berguna bagi hidup mereka.

Pertama, para siswa mulai mengenal talenta mereka sendiri dan bisa memposisikan diri mereka masing-masing dalam proses penyelenggaraan pentas drama itu. Bahkan mereka juga dengan jujur mau mengakui kemampuan teman lain. Ada yang bakat dan mampu menjadi seorang pemimpin sehingga dia dipercaya oleh teman-teman di kelas sebagai ketua pelaksana pertunjukan yang mengatur semua proses persiapan sampai pelaksanaan secara detail. Bahkan ada juga yang dipercaya menjadi sutradara drama karena dirasa dia mampu mengarahkan teman-temannya dalam bermain peran.

Ada siswa yang memiliki talenta khusus seperti musik, menulis, atau membaca novel maka dipercaya oleh teman-temannya untuk menjadi peata musik, penulis dialog dan skenario. Bahkan mereka pun mulai mempertimbangkan teman-teman yang cocok sebagai pemain drama, baik pemain inti maupun figuran. Selain itu, siswa yang biasa-biasa saja dan merasa tidak memiliki talenta khusus untuk pementasan itu dengan sendirinya menawarkan diri sebagai panitia kelas, seperti seksi konsumsi, dekorasi, perlengkapan, dan masih banyak lagi.

Pada tataran ini sangat menarik melihat anak-anak berusaha memahami kemampuannya dan juga menghargai kemampuan teman yang lain. Inilah satu proses penting dalam pendidikan bahwa setiap orang itu berbeda dan perbedaan itu bukanlah menjadi alasan mereka untuk saling mempermasalahkan. Sebuah kesadaran justru telah dibangun oleh anak-anak bahwa perbedaan malah harus dijadikan sebagai kekayaan dan kekuatan yang berharga untuk kepentingan kelompok.

Celakanya, pendidikan Indonesia terlalu condong untuk menyeragamkan apa yang harus dilakukan oleh anak didik. Tidak mempertimbangkan learning style mereka, apakah mereka auditif, visual, atau kinestetik. Hal ini tampak dari metode mengajar seorang guru yang hanya menguntungkan satu kelompok siswa dengan gaya belajar tertentu. Sebagai contoh, guru hanya maenggunakan metode ceramah di kelas maka anak dengan gaya belajar auditif sangat terbantu tetapi anak dengan gaya belajar visual dan kinestetik akan merasa tidak nyaman dan cenderung bosan yang berakibat pada prestasi belajar menurun karena mereka tidak biasa belajar dengan mendengarkan.

Kedua, para siswa mulai belajar tentang tanggung jawab dalam hidup bersama. Jika tanggung jawab itu tidak dilaksanakan maka tidak hanya berimbas pada dirinya sendiri tetapi akan menyebabkan orang lain juga dihadapkan pada masalah. Sebagai contoh, ketika ada anak yang menjadi penulis naskah drama tidak melakukan tugasnya dengan baik maka ini bisa mengacaukan proses latihan yang sudah dijadwalkan. Lebih dari itu, bisa-bisa pentas drama batal dilakukan.

Dengan demikian anak-anak belajar untuk melakukan tanggung jawabnya dengan disiplin dan cara yang efektif. Sebuah pelajaran tentang kehidupan mulai dibangun melalui dinamika pentas drama ini, yakni tentang bagaimana mereka harus menempatkan diri dan berlaku dalam sebuah komunitas kerja yang melibatkan banyak orang.

Ketiga, para siswa pun mulai belajar akan arti sebuah perjuangan. Mereka mulai merasakan secara nyata bahwa kesuksesan itu bukanlah sebuah berkah yang turun begitu saja dari langit. Kesuksesan itu membutuhkan perjuangan. Di dalam perjuangan itu, kebersamaan dan persaudaraan satu sama lain menjadikan semuanya berjalan mengalir karena di sana ada dukungan satu sama lain.

Keempat, para siswa belajar tentang pentingnya kreativitas dan inovasi dalam hidup karena hidup itu sesungguhnya sebuah seni. Hal ini tampak nyata dalam desain pementasan drama mereka yang merupakan buah kreativitas dan inovasi. Usaha keras yang mereka lakukan untuk membuat drama itu menarik patut diacungi jempol. Sebuah kesadaran telah dibangun dalam kelompok bahwa mereka pentas bukan hanya untuk diri mereka sendiri.

Ada sebuah kebanggaan yang muncul tatkala penonton pun merasa puas dengan pemantasan mereka. Kebanggaan itu bisa mengalahkan lelah yang melanda mereka dan berubah menjadi sebuah motivasi besar untuk hidup selanjutnya.

Bukan Hanya Milik Sastra

Kebanggaan pun akan menyelimuti sang guru saat melihat anak didiknya bangga dengan perjuangan mereka, khususnya atas suksesnya pementasan drama mereka. Bukan semata-mata masalah nilai (skor) yang nantinya akan diperhitungkan dalam penentuan nilai akhir di rapor tetapi karena anak-anak telah belajar tentang nilai-nilai kehidupan itu sendiri. Ada sebuah istilah Latin mengatakan Non Scholae Sed Vitae Discimus yang maksudnya adalah sekolah bukanlah untuk nilai (skor) tetapi sekolah untuk hidup.

Ironis memang tatkala pendidikan kita sangat menekankan skor yang utama daripada berbicara nilai-nilai kehidupan di balik proses pembelajaran yang ada. Seringkali yang terjadi dalam desain pembelajaran seorang guru adalah sejauh mana anak menguasai materi dengan mendapat skor yang baik lewat tes. Celakanya, tes yang dilakukan sangat berorientasi pada materi dan hafalan belaka.

Sesungguhnya ada sesuatu yang lebih penting yang harus ditanamkan pada dinamika belajar bersama anak-anak, yakni nilai-nilai kehidupan di balik proses pembelajaran itu sendiri. Memberi kesempatan anak berekspresi dalam keragaman mereka adalah sebuah cara yang baik untuk membantu anak-anak berkembang dengan mengenal potensi mereka.

Pentas drama sebenarnya bukan hanya milik pelajaran sastra. Benarkah? Sebagai salah satu contoh, tatkala anak-anak dari kelas tertentu menampilkan sebuah drama dengan judul Saminah Kusayang, Saminah Kukenang yang menggunakan setting pada saat Agresi Militer Belanda I di Indonesia, apakah ini hanya berbicara tentang sastra? Tentunya tidak hanya berbicara tentang sastra tetapi juga tentang sejarah, tepatnya sejarah bangsa Indonesia.

Sebuah pentas drama yang menggunakan background animasi untuk mendukung terciptanya suasana dalam sebuah adegan seperti peperangan yang begitu dahsyat, apakah ini berbicara tentang sastra belaka? Tentunya anak-anak tidak hanya berbicara tentang sastra tetapi mereka juga berbicara tentang tehnologi atau ilmu komputer.

Pentas drama yang sangat penuh dengan pembelajaran akan nilai-nilai kehiduapn itu bukan hanya milik sastra tetapi justru bisa menjadi sebuah kolaborasi yang brilian antara sastra, sejarah, dan tehnologi (ilmu komputer). Setidaknya ada tiga mata pelajaran yang terlibat dan ambil bagian dalam sebuah desain pembelajaran lewat pementasan drama.

Bagaimana anak-anak memainkan drama dengan ekspresif dan estetis adalah sebuah pembelajaran sastra yang hebat. Bagaimana anak-anak memahami konteks sejarah yang diangkat dalam drama mereka adalah sebuah pembelajaran sejarah yang tidak hanya sekedar menghafal nama, tahun, atau persitiwa tertentu belaka tetapi justru mereka mampu memvisualisaikan nilai-nilai historis yang ada. Bagaimana anak-anak mendesain efek animasi atau background panggung untuk mendukung adegan adalah sebuah pembelajaran tehmologi yang aplikatif sesuai kebutuhan.

Akhirnya, yang tak boleh dilupakan adalah anak-anak telah belajar sebuah mata pelajaran kehidupan dengan pementasan drama itu. Semoga selalu ada jalan bagi mata pelajaran kehidupan untuk masuk ke bangku sekolah. Semoga para guru pun siap berkata, Selamat datang mata pelajaran kehidupan.


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?