Kenapa guru di daerah Sulit untuk Meneliti?
pendidikan, penelitian Tagged guru meneliti, sulit meneliti, motivasi tinggi, jangan menyerah Oktober 14th, 2009Saya termenung dan pikiran saya menerawang jauh setelah mendapatkan komentar dari teman saya seprofesi, bapak Sigit Mukriyadi di Madiun. Dalam komentarnya beliau menuliskan kenapa guru di daerah sulit untuk melakukan penelitian? Berikut ini komentar beliau yang saya ambil dari blog pribadi saya di sini.
Salam kenal pak wijaya.
Thanks fo sharing sir.
Disini saya hanya mau menyampaikan kondisi realitas sebenarnya yang kemudian saya hadapkan pada statement :
Untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik, guru yang sudah memperoleh sertifikasi dan tunjangan guru akan tetap dipantau. Pemantauan termasuk juga pemberian pelatihan metode pengajaran, materi pengajaran, dan melakukan penelitian.
Statement itu sangat baik sekali guna meningkatkan kualitas guru dengan memberikan pelatihan metode pengajaran ataupun dengan melakukan penelitian tindakan kelas dan saya sangat nenyetujui hal itu. akan tetapi alangkah baik lagi jika itu diterapkan pada guru-guru yang telah berstatus PNS dan guru yang berstatus Bersertifikasi karena kebutuhan ekonomi mereka tercukupi saat ini, dan mohon jangan sampai diterapkan pada guru bantu/honorer baik sekolah swasta/negeri .
Dan alangkah senangnya jika pelatihan-pelatihan tersebut gratis dan berlaku untuk semua guru baik guru PNS, guru bersertifikasi, ataupun guru bantu/ honorer agar dapat dinikmati & dirasakan bersama hasil pelatihan-pelatihan itu karena status kita adalah sama-sama berstatus guru, hanya kesejahteraan perekonomian yang berbeda.
Meskipun saya lulusan AKTA IV tetapi saya adalah orang yang selalu bersemangat untuk selalu belajar dalam keadaan apapun, setiap kali saya mengajar selalu menggunakan model-model pembelajaran yang berubah-berubah sesuai kondisi/ keadaan siswa beserta waktu yang cukup tersedia, baik STAD, TGT, problem solving dll yang intinya terus berusaha menciptakan suasana Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif sekaligus Menyenangkan untuk saya pribadi selaku guru maupun anak-anak didik saya, yang kemudian sering pula saya menganalisis dan mengevaluasinya.
intinya, setiap kali mengajar saya selalu merencanakan, menerapkan, menganalisis serta mengevaluasi atas metode & materi yang telah saya implementasikan guna mengetahui sejauh mana keberhasilan dalam membimbing anak didik saya. berarti saya telah melakukan Penelitian Tindakan Kelas setiap kali mengajar, hanya saja tidak dituangkan kedalam tinta hitam diatas putih (dibukukan).
Sebabnya:
Kebetulan sekali saya adalah T.U salah satu SD Negeri di madiun dan merangkap sebagai guru bantu/honorer salahsatu SMP swasta di madiun yang setiap hari kerjanya terbagi 2 waktu.
Gaji guru swasta perbulan yang saya terima kurang dari Rp. 200.ooo perbulan (dua ratus ribu rupiah perbulan) tepatnya Rp. 185.000,-. mari kita kakulasi gaji tersebut untuk menuangkan atas apa yang telah saya terapkan dikelas kemudian peraturan-peraturan baru memaksa untuk menuangkannya kedalam kertas sehingga menjadi sebuah buku berupa PTK.
- Kertas 1 Rem merk Sinar Dunia 70gram Rp 45.000,-
- Tinta untuk printer merk Rainbow Rp. 30.000 ,-
- Jika sewa rental komputer untuk ngetik perjam Rp. 2.500 (3 jam saja tidak cukup untuk mengetik sebuah PTK ), belum lagi ngeprintnya dirental yang perlembernya Rp. 500 (bayangkan jika PTK tebalnya 60 lembar, kalikan saja Rp. 500, sudah Rp. 30.000 tidak termasuk lama jam sewa rentalnya). jika beli komputer + printernya berapa juta tuh

- Belum lagi Menjilid dan mengcover kemudian menggandakan (silahkan tanyakan harganya ke toko fotocopy).
Usai itu anda hitung total biaya yang harus dikeluarkan untuk sebuah PTK.
Akibatnya:
Naaah gaji Rp. 185.000,- perbulan cukupkah??? Lalu Anak, Istri saya membeli sembako, sabun, perlengkapan mandi dapat uang darimana??? Mau menabung uang darimana jika selalu gaji habis karena hal diatas??? lalu transportasi untuk esok harinya berangkat ke sekolah untuk bertugas membimbing anak-anak didik saya yang jaraknya sekitar 10km dari rumah??? (jalan kaki karena tidak punya uang untuk beli bensin???
10km jalan kaki??? berapa jam tuh tiba disekolah?), kemudian, Pendidikan anak saya harus bayar pakai uang darimana, katanya sekolah sekarang gratiiiisss ada dimana-mana tapi kenyataannya sekolah-sekolah masih memungut biaya dengan cara melakukan mengumpulkan orang tua wali murid kemudian meminta pungutan dengan dalih sumbangan untuk kelengkapan administrasi sekolah dengan hukum sumbangan wajib (sumbangan kok wajib
jika anda tidak percaya, silahkan anda survey lapangan dengan menyamar (seperti intel polisi) lalu datang kesekolah contohnya disekolah pinggiran kota madiun bukan dikota madiunnya tapi pinggiran kota).
Berarti saya harus kerja sampingan untuk mencukupi kebutuhan keluarga, Naaah waktu lagi khaaan yang berbenturan antara waktu untuk menyusun sebuah PTK dengan mencari uang lewat kerja sampingan, lalu kapan rampungnya sebuah PTK itu jika setiap bulan harus mencukupi kebutuhan keluarga guna mencari tambahan pendapatan dari Rp. 185.000,- perbulan itu.
Bagaimana mau meningkatkan kualitas guru jika gizi guru dan keluarganya tidak tercukupi??? jika gizi tercukupi maka akan menghasilkan otak yang sehat, apabila otak telah menjadi sehat maka otak akan mampu menerima transfer ilmu.
Renungkanlah
Monggo dengan senang hati dan sangat gembira jika peraturan di pendidikan diperkuat guna kemajuan pendidikan agar masyarakat kita tidak tertinggal dengan negara-negara lain, tetapi jangan hanya peraturan saja yang diperkuat , kesejahteraan guru yang belum PNS pun harus diperkuat, jangan asal cekik sana cekik sini.
Setiap kali pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang pendidikan, semua pihak baik negeri maupun swasta mendapatkan dampaknya pula karena sekolah-sekolah swasta yang ada di indonesia bernaung dibawah departemen-departemen pemerintah.
Walau bagaimanapun dan apapun kebijakan pemerintah, saya tetap setia pada negara tercinta ini karena saya orang yang taat pada pemerintah dan saya orang yang takut sekaligus tidak rela apabila dibodohi oleh negara-negara lain.
Mohon dukungan dari rekan-rekan senior dan semoga guru bantu/ honorer tidak diwajibkan untuk menuangkannya kedalam buku kecuali pemerintah mau memberikan tunjangan untuk penelitian dan kesejahteraan yang sesuai terkhusus guru bantu/ honorer. Amin amin yaa rabbal alamin
Demikianlah komentar panjang yang saya dapatkan dari teman saya bapak Sigit Mukriyadi di Madiun. Saya terharu membacanya. Dengan gaji Rp.185.000,- guru dituntut harus kreatif dalam penelitian dan melaporkan hasil PTKnya. Pertanyaannya adalah apakah penelitian sederhana di kelas harus menggunakan dana? Apakah dana yang minim lalu membuat kita menjadi tidak kreatif? Coba mari kita renungkan!.
Saya jadi teringat dengan teman saya dari Aceh (saya lupa namanya) yang menjadi finalis LKTI (Lomba Karya Tulis Ilmiah) tingkat nasional bidang IMTAK di tahun 2005. Waktu itu beliau menjadi teman sekamar saya, karena sama-sama menjadi finalis LKTI tingkat nasional di Jakarta. Saya bertanya pada beliau, apa yang menyebabkan karya tulisnya bisa masuk final di tingkat nasional. Motivasi apa yang membuatnya sanggup menulis karya tulisnya? Bukankah Aceh baru saja terkena Tsunami? Beliau lalu bercerita panjang pada saya, semoga menjadi motivasi bagi teman-teman guru lainnya di seluruh Indonesia.
Sambil bercucuran air mata beliau bercerita. Setelah pasca tsunami, sekolahnya hancur porak poranda. Pada saat itu yang tersisa hanyalah satu buah komputer tua pentium 486. Sebagai sekolah yang berstatus swasta dan dengan jumlah siswa yang tidak banyak serta gaji yang minim pula, membuat teman saya itu tak pernah menyerah dengan keadaan. Beliau selalu memperbaiki kualitas pembelajarannya melalui penelitian kecil di kelasnya sendiri. Beliau rajin menuliskan apa-apa yang telah dikerjakannya. Beliau melakukan penelitian sederhana, dan nyaris tanpa biaya. Komputer yang hanya satu-satunya di sekolah itu, beliau pergunakan di sore hari setelah mengajar. Apa yang beliau tuliskan, di catatan kecil kemudan beliau ketik sendiri dengan menggunakan komputer tua itu.
Namun, ketika semua tulisannya jadi, tak ada printer di sekolah itu. Beliau pergi ke kabupaten yang jaraknya sekitar 50 km dari sekolah. Di sewa rental itulah beliau mencetak karya tulisnya. Lalu mengirimkan hasil penelitiannya ke panitia karya tulis di Jakarta. Beliau yakin dan sangat yakin, bila motivasi kita kuat, dan niat kita karena Allah pasti di dalam kesulitan itu ada kemudahan.
Gajinya yang kecil tak membuatnya pasrah dengan keadaan, beliau bekerja keras mencari tambahan penghasilan untuk bisa sewa printer dan biaya pengiriman KTI ke Jakarta.
Beberapa bulan kemudian, ada surat dari panita lomba KTI Jakarta. Karya tulis beliau terpilih masuk dalam final lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional. Seluruh biaya transportasi dan akomodasi di tanggung oleh panitia. Beliau bersyukur kepada Allah karena telah diberikan kesempatan mewakili Aceh dan mengalahkan ribuan karya tulis lainnya. Beliau berangkatdari Aceh dengan pesawat terbang, dan baru kali itulah beliau bisa menikmati perjalanan ke jakarta dengan pesawat terbang. Gratis pula!.
Dari cerita teman saya di Aceh itu, saya menjadi termotivasi untuk selalu meneliti di kelas saya sendiri. Persoalan biaya tak pernah saya pikirkan. Sebab yang dibutuhkan guru dalam meneliti adalah semangat untuk memperbaiki diri dan semangat instropeksi diri untuk memperbaiki kualitas pembelajarannya di kelas. Manfaat yang bisa dipetik dari hasil penelitian itu jelas diri guru itu sendiri, dan juga peserta didik yang menjadi asuhannya. Persoalan dana, janganlah jadi kendala. Sebab, bila motivasi kita tinggi, persoalan dana itu pasti bisa kita atasi asalkan kita kreatif dan tidak pernah menyerah serta berputus asa.
Semoga para guru kita mau meneliti di kelasnya sendiri, dan tidak terus menerus mengeluh merenungi nasibnya yang bergaji guru Oemar Bakri. Guru harus menjadi motivator bagi para anak didiknya.
Salam Blogger Persahabatan
Oktober 14th, 2009 at 11:13
setuju pak…jadilah para guru sejati. Hanya keberhasilan anak didiklah dan mengantarnya menjadi manusia sukses dan berakhlakul karimah akan mampu membuat para guru berbangga hati dan itulah bayaran tertinggi bagi seorang guru.
salam
Oktober 14th, 2009 at 11:17
setuju…
kalau menyuruh anak didik kreatif, mestinya harus dimulai dan dicontohkan oleh gurunya.
guru sd saya juga sampai sekarang masih jualan buah-buahan di pasar.
Oktober 14th, 2009 at 14:54
aku sebagai guru di kota lumayan miris membacanya…Ingin sekali rasanya aku pindah ke desa untuk mengajar hal-hal yang sudah aku dapatkan. kalau ditempatku mengajar, pelatihan itu rata2 gratis, membaca buku pembelajaran wajib hukumnya. Mencoba hal-hal baru di kelas juga seringkali dilakukan, games, lagu (menciptakan atau mengubah), pembelajaran yang dikemas dengan bermain, cara menangani anak, menjadikan guru dan anak seperti teman namun tetap ada rasa hormat dll.
(maaf ya agak sedikit curhat)
Nah, pembelajaran kreatif akan muncul ketika sang guru juga kreatif. sebenarnya pembelajaran kreatif tidak mesti mengeluarkan uang yang buanyak. Cukup menggunakan alam sebagai media, menggunakan bahan-bahan bekas juga bisa dilakukan. Menggunakan biji-biji (apalagi di desa banyak kan?), sehingga sebenarnya hal-hal yang berkaitan dengan media bisa diminimalisir.
aku di kelas selalu melakukan inovatif pembelajaran, kemarin sekolah mengadakan karya tulis dan aku juara 3 (kalah di persentase: tak pakai persiapan). hal-hal yang berkaitan dengan penanganan anak, games dll akan muncul saat kita mengajar….
Selain itu semangat saat mengajar akan berpengaruh besar pada semangat anak didik kita loh….. Aku pernah mengalami itu (berulang-ulang)
Sebenarnya buanyak hal yang bisa kita kerjakan, yang bisa kita lahirkan saat mengajar….demi anak didik kita tentunya.
meskipun gajiku lebih dari cukup, namun aku tak mengandalkannya. Gini-gini aku jualan dan omjetnya lebih dari gaji yang kuterima. selain itu aku juga rajin ngasih les private (yang alhamdulillah memberi masukan yang lumayan)
Hal lain, saya juga menulis buku anak-anak, sekarang lagi proses penerbitan.
Sebenarnya saat kita mau berusaha, ulet, semangat, dan pantang menyerah pada keadaan. Insya allah keadaan itu akan mendukung kita sedukung-dukungnya…. yakinlah itu! Apa yang kita kerjakan saat ini akan berimbas pada masa datang. termasuk hal-hal kecil yang kita lakukan pada anak-anak didik kita!
maaf ya! kesannya curhat. Namun itulah yang saya rasakan sebagai guru. Sebagai pendidik anak-anak bangsa yuk kita saling memberi dukungan….
Salah satunya linkmu…..sudah masuk di blogku!!!
Semangat…semangat….
Hingga menembus langit!!!
Oktober 14th, 2009 at 15:31
Guru Oemar Bakri ternyata masih banyak di negeri ini. Saya turut prihatin; karenanaya untuk keperluan meneliti Bang Wijay harus banyak share kalau perlu berikan contoh-contoh penelitian disini. Hal meneliti adalah barang langka bagi guru umumnya; apalagi guru di daerah jauh dari kota…….jauh dari mesin ketik dan komputer…..dan jauh dari perhatian. Salam sukses selalu Bang Wijay.
Oktober 14th, 2009 at 15:50
Sebagai calon guru, memenag semua itu hal yang baik, sipa seh yang gak ingin menulis, keinginan itu pasti ada. Dan ada penghambat untuk memulainya, terus bagaimana kita mrnyikapi ini sebagai suatu yang delematis. Menulis tidak hrus yang seperti kita bayangkan tetapi biarlah kita menulis dengan ikhlas tanpa terikat apapun.
Oktober 14th, 2009 at 17:25
Masalah penelitian bagi guru di daerah bukan hanya masalah dana saja, melainkan masalah SDM dan kebiasaan meneliti. Saya melihat teman2 saya yg ngajar di SD(sampang madura) yg sedang mengajukan portofolio Sertifikasi guru, mereka kesulitan mencari contoh PTK. Contoh aja sulit apalagi membuatnya. Makanya perlu kiranya guru di daerah dibantu pelatihan “penelitian”
Oktober 14th, 2009 at 18:21
Wah… kalau banyak guru seperti itu (guru dari Aceh itu), Indonesia cepat maju nih. Insya Allah. Tapi juga jangan sampai terlenakan ya, meneliti terus, ngajarnya… hehe… (Sekalian mengingatkan diri sendiri, supaya lebih fokus mempersiapkan diri untuk mengajar dan mengajarnya itu sendiri. Nggak boleh terlalu asyik nge-blog juga ya. Hihi…)
Oktober 14th, 2009 at 20:38
assalamualaikum…..
salam kenal pak…..
terus menulis pak…
terus meneliti pak…
terus berjuang pak…
Oktober 14th, 2009 at 20:44
uang memang bukan segalanya,. namun selama kita hidup di dunia, kita pasti membutuhkannya,.
munafik, jika ada orang yang ngomong klo dy gak butuh yang namanya uang,…
guru adalah insan pendidikan,. sudah sepantasnya jasa2nya dihargai dengan gaji yang sepatutnya,.
pepatah dulu yg mengatakan “guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa” sepertinya perlu direnungkan lagi,.. karena menurut saya, guru sangat berjasa atas apa yang ada pada saya saat ini,..
Oktober 14th, 2009 at 20:45
Seandainya Semua guru berpedsoman seperti Temen Anda yang dari Aceh, Saya yakin, Anak2 kita dicerdaskan oleh sikap guru yang sesungguhnya…
Aku sangat terharu dan ijinkan saya memberi salam hormat teruntuk temen Bapak yang dari Aceh itu dengan sebuah Do’a, Semoga orang2 seperti beliau selalu dan selalu dimantapkan hatinya untuk selalu dan selalu Istiqomah dalam pengabdianya. Saya juga semoga semua guru yang membaca tulisan dan kisah beliau bukan hanya mengabaikan atau malah justru Mencemoohnya. Tapi ikutilah keteladananya.
Mel;alui tulisan dan kisah Bpk Wijaya Kusuma ini saya jadi menemukan Jawaban atas tulisan saya terdahulu yang berjudul “Saat Pengabdian sudah dinilai dengan RUPIAH” http://aribicara.blogdetik.com/index.php/2009/04/26/saat-pengabdian-sudah-di-nilai-dengan-rupiah/
Setelah membaca Tulisan Bapak yang ini saya jadi OPTIMIS bahwa di negeri ini masih ada orang2 seperti temen Bapak yang dari Aceh tai ….
Semoga saja guru2 yang lain bisa menjadi Guru yg benar2 Mengabdi dan bukan memperkaya diri.
Tapi perlu dicatat bahwa, jangan dijadikan orang2 seperti tman Bapak itu dijadikan sebagai Pelarian tanggung jawab Pemerintah dan pihak terkait utk memperhatikan ansib mereka sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Salam …
Oktober 14th, 2009 at 21:02
Ralat…
*Bapak yang dari Aceh tai .
Maksudnya adalah TADI.. Mohon maaf dan saya harap mohon diedit …
Makasih banyak ….
Oktober 14th, 2009 at 21:59
setuju banget. mungkin ada cara lain kayaknya nulisnya pake ngelamun he3x.
Oktober 15th, 2009 at 02:40
Quote
“Walau bagaimanapun dan apapun kebijakan pemerintah, saya tetap setia pada negara tercinta ini karena saya orang yang taat pada pemerintah dan saya orang yang takut sekaligus tidak rela apabila dibodohi oleh negara-negara lain.”
sangat hebat perjuangan bapak, dan alangkah mulianya pekerjaannya sebagai guru.
Oktober 15th, 2009 at 06:24
Dengarkan saja bait2 lagunya D’Masiv yang Jangan Menyerah itu..
Pasti para guru bakal mau meneliti deh…
dan kayaknya meneliti itu bukan hanya kerjaannya guru dan ilmuwan kok, sebagian besar orang di Indonesia emang harus gemar meneliti, dengan berbagai tingkatanya masing2, dan sebagian memang tidak harus ditulis kok.
Dari mulai yang sederhana mencari jalan agar kamar gak dimasukin nyamuk mulu tiap malam sampai yang kelas2 berat ala imuwan LIPI misalnya.
So, jangan sok melebay-lebay kan konsep meneliti deh, mari kita praktekkan dalam keseharian…
Oktober 15th, 2009 at 06:41
Kadang saya menjadi bingung melihat banyaknya guru yang sibuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarganya dan mengabaikan perbaikan pendidikan dan pengajaran yang menjadi tugas utamanya.
Mereka berlatih meneliti dan menulis setiap saat, tapi semuanya hanya memberikan pengaruh pada perbaikan ekonominya saja, tidak pada perbaikan pengajarannya.
Oktober 15th, 2009 at 10:11
@sieda, wajar kalau seorang guru ingin meningkatkan ekonomi, toh perhatian pemerintah terhadap guru juga masih minim.
“Mereka berlatih meneliti dan menulis untuk perbaikan ekonomi….”
Tidak juga! Tulisan yang dihasilkan adalah muara ilmu atau hasil penelitian, guru-guru lain maupun calon guru mempelajari itu dari tulisan yang kita buat.
Toh jika ada uang (semisal dari royalti) dan itu bisa meningkatkan kesejahteraan, itu adalah imbas dari usaha kita. Wajar saja dong!!!
Jika anda bilang bahwa tidak memberikan perbaikan pengajaran, mme…barangkali anda perlu kroscek! Atau berikan data dan bukti yang jelas.
Anda tahu pendidik sekaligus penulis Torey Hayden (semoga anda tahu!), dia bertahun-tahun mendidik anak-anak dan seorang anak autis. lalu ia tulis menjadi novel. kami para guru yang membacanya dan banyak belajar bagaimana cara menangani anak.
Buat dunia pengajaran/pendidikan jelas membantu sekali…kami jadi tahu dan ternyata itu efektif. Imasnya, buku Torey laku dan ekonominya semakin baik. wajar kan!
So, lihatlah lebih dekat…. jangan melihat kulitnya saja!
salam