Telaga Hati

pendidikan  Tagged , 3 Comments »

Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak hanya mendengarkan dengan seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

“Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya, ” ujar pak tua.

“Pahit, pahit sekali, ” jawab pemuda itu sambil meludah ke samping.

Pak tua tersenyum, lalu mengajak tamunya berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingandan akhirnya sampai ke tepi telaga yg tenang itu. Sesampai di sana, Pak tua kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.

“Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya kepadanya,

“Bagaimana rasanya?”

“Segar ,” sahut si pemuda.

“Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?” tanya pak tua.

“Tidak, ” sahut pemuda itu.

Pak tua tersenyum dan kemudian berkata, “Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnya pun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.

Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yang kamu dapat lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak tua itu lalu kembali menasehatkan, “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu menampung setiap kepahitan itu, dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian.”

Hidup adalah sebuah pilihan. Mampukah kita jalani kehidupan dengan baik sampai ajal menjelang?

Belajar bersabar menerima kenyataan adalah yang terbaik.

Sumber:

Abu <abu@seamolec.org>

Tetaplah tegar Anakku Sayang. Lulus UN Bukanlah Segalanya.

pendidikan  Tagged , , 18 Comments »

Tetaplah Tegar Anakku sayang, UN Bukanlah Segalanya

Membaca berita di berbagai media tentang jumlah ketidak lulusan siswa SMA/SMK/MA membuat saya merasakan kepedihan yang mendalam. Terutama bagi mereka yang belum lulus.

Tentu ada kesedihan dan kekecewaan muncul. Sebab tak semua anak yang tidak lulus itu bodoh atau tidak cerdas. Bahkan ada yang telah diterima di perguruan tinggi favorit papan atas.

Dari detik.com saya baca berita:

Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) sempat menjadi perdebatan berbagai pihak. Bagi Mendiknas M Nuh, UN itu ibarat laboratorium untuk menguji kemampuan siswa dalam belajar.

“Ada orang yang sangat enggan pergi ke laboratorium untuk cek kesehatan. Karena mereka khawatir ketahuan penyakitnya. UN itu sebetulnya laboratoriumnya,” kata M Nuh di kantornya, Jl Sudirman, Jakarta, Selasa (27/4/2010).

Semoga saja pendapat pak mendiknas, Moh. Nuh itu benar. Semoga pula bisa meredam kekecewaan para siswa yang tidak lulus. Tetaplah tegar anakku sayang, Lulus UN bukanlah segalanya.

Dengan tidak lulus UN, sebenarnya ada pembelajaran yang berharga untuk dirimu. UN adalah pintu gerbang utama untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sehingga semua siswa harus fokus belajar agar bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Mungkin kamu belum mengeluarkan semua potensi yang kamu miliki. Atau mungkin kamu grogi pada saat UN dan membuatmu tak percaya diri.

Bila ikhtiar sudah dilakukan dan ternyata hasilnya tidak lulus, maka masih ada kesempatan untuk mengulang. Gunakan kesempatan itu dengan baik dan yakinkan diri bahwa kamu akan lulus.

Kamu pasti bisa harus bersemayam dalam dirimu. Saya pasti bisa harus menjadi penyemangat dalam dirimu. Itulah modal dari keterpurukan untuk kembali berdiri dengan gagah. Lulus UN bukanlah segalanya. Masih ada lagi perjuangan panjang yang masih harus ditempuh.

Tetaplah tegar anakku sayang, masih ada kesempatan untuk mengulang. Katakan pada dunia bahwa kamu mampu mengerjakan soal-soal itu dengan baik dan gunakan waktumu untuk berlatih soal-soal UN, seperti halnya seorang petinju yang akan bertanding.

Lawanmu sebenarnya dirimu sendiri. Hajar kemalasan diri dan cari tahu apa yang kamu tidak mengerti, lalu tanyakan pada guru sebagai ahlinya. Percayalah, semua guru di sekolahmu akan mendukungmu untuk maju mengulang UN kembali dengan semangat yang menggebu. Mereka tentu tak tinggal diam.

Tetaplah tegar anakku sayang, lulus UN bukanlah segalanya. Masih panjang perjalanan hidupmu dan masih banyak tantangan dan rintangan yang akan menghadang. Kalau sudah begitu buat apa sekolah kalau cuma lulus UN. Sebab tujuanmu bersekolah untuk meningkatkan ketakwaanmu kepada Tuhan yang Maha Esa, meningkatkan keterampilan, meningkatkan kepandaian, dan meningkatkan budi pekerti yang luhur. Kalau itu sudah terekam dalam dirimu, maka kau akan yakin UN bukanlah segalanya.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com


WordPress Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in