Bearapa gaji ustadz di pesantren ini? Pertanyaan di atas diajukan oleh Alif kepada kyai Rais ketika mewawancarainya. Lalu sang kyai menjawab bahwa para ustadz di pondok madani tak mendapatkan gaji. Mereka sudah mewakafkan dirinya untuk berjuang di jalan Allah. Mereka adalah para guru tangguh berhati cahaya. Ikhlas bekerja demi tegaknya agama Islam. Begitulah inti dari wawancara antara santri dengan kyainya dalam film negeri 5 menara.

Saya sempat tertegun sejenak melihat adegan dalam film negeri 5 menara yang akan tayang pada 1 maret 2012 nanti. Betapa hebatnya para guru atau ustadz di pesantren itu. Mereka telah mewakafkan dirinya untuk kemajuan anak bangsa yang ingin mewujudkan mimpinya. Seperti teman-teman shohibul menara yang bertekad pergi ke5 menara yang berbeda di dunia. Itulah julukan buat anak-anak santri di pesantren madani.

Alhamdulillah, untuk kedua kalinya saya menonton film produksi milion picture dan kompas gramedia ini sebelum tayang di seluruh bioskop di Indonesia. Sungguh sebuah keajaiban setelah saya menjadi blogger. Begitu mudahnya saya mendapatkan undangan. Undangan pertama saya dapatkan dari blogger kompasiana, dan  undangan kedua saya dapatkan dari ikatan guru Indonesia (IGI).

Sewaktu menonton pertama kali bersama blogger kompasiana beberapa waktu lalu di Blitz Megaplex, Pacific Place Mall Lt 6 (Jum’at, 17 Feb 2012), saya belum mudeng dengan jalan ceritanya. Maklumlah saya sempat tertidur sejenak ketika pemutaran filmnya. Saya masih bingung alur ceritanya. Tahu-tahu Alif dan kawan-kawannya sudah besar, dan berada di dekat menara yang mereka impikan. Ada ending yang nampaknya terlalu dipaksakan, dan membuat penonton geregetan.

Pada hari ini, Selasa 21 Februari 2012  di plaza Fx Senayan lt7 saya menonton kembali film yang diadaptasi dari novel negeri 5 menara. Kali ini saya minum kopi dulu agar tak tertidur. Sayang bila saya sampai tertidur lagi. Malu dong sama mas Ahmad Fuadi, penulis novel negeri 5 menara yang sukses dalam penjualan bukunya.

Benar saja, saya mengikuti jalan cerita dari awal hingga akhir tanpa rasa kantuk. Sayapun menikmati film ini sambil sesekali mengambil gambar adegan melalui ponsel jadul saya. Tak terasa, tahu-tahu saya sudah berada dalam hanyutan cerita film yang nampaknya akan banyak diminati oleh para penonton film Indonesia.

13298438491566515958
Jadilah Orang Besar yang bermanfaat buat orang banyak

Saya acungi jempol buat sutradara, mas Affandi Abdul Rachman dan penulis skenarionya, mas Salman Aristo. Meskipun jujur saya ada kritikan sedikit. Tapi jangan sekarang ya. Soalnya banyak yang belum menonton. Biarkan saja mereka penasaran karena belum menonton filmnya. hehehe. Semoga mampu menyedot lebih dari satu juta penonton. Amin.

Bagi saya, film ini menginspirasi saya sebagai seorang guru untuk tidak lagi bertanya soal gaji. Jadilah guru yang mengajar dengan hati. Perkara gaji sudah ada yang mengaturnya. Bila kita para guru bekerja dengan baik, dan membuat peserta didik menjadi berkualitas maka akan ada kebanggaan tersendiri yang terasakan. Jadilah orang besar dengan banyak bermanfaat buat orang banyak. Itulah pesan kyai Rais dalam film ini yang diperankan oleh Ikang Fauzi. Seorang penyanyi rock yang terkenal di jamannya.

13298432191680709234
Ketika Santri Komplain dengan Kyainya

Banyak hal yang sebenarnya ingin saya ceritakan dalam liputan film perdana ini. Tentang Alif yang ingin menjadi orang pintar seperti pak Habibie. Juga cerita tentang Baso yang terpaksa harus pulang kampung merawat neneknya yang sakit keras. Tapi apa daya mata sudah mengantuk. Semoga lain waktu bisa saya lanjutkan. Anda bisa melihat beritanya di sini dan di sana.

Biar imbang, silahkan dibaca juga ulasan N5M yang ditulis oleh kompasianer lainnya:

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?