Inilah Alasan Mengapa Matpel TIK Masih Diperlukan

10 Feb 2016

Inilah Alasan Mengapa Mapel TIK Masih di Perlukan

Oleh: Dzulfikar Al-A’la, S.Pd.

 

Latar belakang pendidikan saya adalah sarjana Pendidikan Bahasa Inggris. Saya kuliah di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Sejak SD saya memiliki ketertarikan untuk mempelajari komputer, meskipun memang awalnya hanya tertarik untuk memainkan game demi game. Namun, dari situlah ternyata saya bersentuhan dengan program-program lainnya yang satu sama lain saling terkait. Mau tidak mau dan suka tidak suka untuk membuka sebuah game diperlukan prosedur yang runut sehingga akhirnya bisa memaikan game tersebut. Saya menyebutnya sebuah “tantangan”. Yap, dari tantangan-tantangan itulah saya jadi tertarik mendalami lebih jauh tentang komputer.

 

Perjuangan untuk bersentuhan dengan komputer saat SD sungguh sangat berat. Beberapa kali saya harus sembunyi-sembunyi menggunakan komputer karena pada saat itu orang yang lebih dewasa selalu menganggap anak-anak hanya menggunakan komputer untuk bermain game saja. Andai saja mereka bisa mengarahkan anak-anak menggunakan komputer secara baik dan membawa manfaat tentu ceritanya akan lain lagi.

 

Persepsi seperti itu justru sekarang tidak berubah. Anak-anak yang memegang tablet atau handphone kerap dianggap hanya menggunakan sebagai huburan semata. Padahal tablet dan smartphone bagi generasi digital saat ini sudah tidak bisa dilepaskan lagi keberadaannya.

 

Mereka mendapatkan hiburan, informasi bahkan pendidikan dari sebuah genggaman. Itulah mengapa orang tua perlu berpikir terbalik. Jika ingin anaknya maju, justru orang tua harus mengarahkan anak-anaknya dalam menggunakan gadget, alih-alih bukan malah memarahinya dan berprasangka negatif terhadap kegiatan yang anak-anak lakukan dengan gadgetnya.

 

Namun bukan pula berarti mereka bebas, sebebas-bebasnya.

Kembali ke masa lalu, sayangnya, dengan keterbatasan fasilitas sekolah mulai dari SD hingga SMA, saya tidak sepenuhnya selalu mendapatkan pelajaran komputer. Setengah-setengah. Bahkan hampir di tingkat SMA tidak mendapatkan pelajaran komputer dalam artian memiliki kesempatan lebih banyak praktik ketimbang memperdalam teori.

 

Dalam memori terbatas saya tertanam, terakhir kalinya saya menggunakan komputer, saat itu masih memelajari lotus hingga kemudian langung melakukan lompatan pada Windows XP yang benar-benar merasakan belajar komputer yang sesungguhnya.

 

Gap inilah yang membuat benang merahnya sementara pernah terputus. Disinilah saya merasa menyesal karena jelas saya merasa tertinggal dengan teman-teman yang bisa berkembang lebih jauh dalam memahami komputer di sekolah lain di provinsi yang berbeda. Kebetulan saat itu saya sekolah di Yogyakarta sementara perkembangan teknologi lebih pesat berkembang di kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya saja.

 

Alasan sederhananya adalah di sekolah tidak ada teknisi komputer, yang ada hanya guru komputer dari latar belakang ilmu pengetahuan yang berbeda sehingga tidak memahami maintenance atau pun troubleshooting. Wal hasil memang sudah bisa ditebak, dari sekian banyak komputer yang ada hanya beberapa komputer saja yang bisa digunakan. Otomatis lagi-lagi kami dipaksa untuk memperdalam teori dan teori.

 

Akhirnya ketika warnet mulai menjamur, saya terpaksa mencuri-curi waktu untuk mengenal apa itu internet sekitar tahun 2000. Saat itu saya melihat internet dari segi sosial medianya saja, seperti penggunaan chatting dan mailing yang kerap kali digunakan sebagai media mencari teman bahkan mencari jodoh. Lambat laun saya seperti memulai dari awal. Memulai untuk mengenal komputer dan internet hanya dari aspek hiburan saja. Disini saya berasumsi bahwa pendidikan pada masa saya gagal memahami kebutuhan siswanya sepenuhnya. Jika saja sekolah (baca:pemerintah) bisa memfasilitasi siswanya untuk mengenal teknologi saat itu, tentu saat ini saya sudah bisa melakukan banyak hal. Minimal ada hal-hal yang seharusnya saya ketahui lebih awal.

 

Banyak programer pendidikan yang lahir bukan dari latar belakang pendidikan. Sehingga terkadang mereka harus beradaptasi terlebih dahulu. Perlu proses panjang untuk menciptakan produk yang dikhususkan untuk pendidikan. Padahal jika dipelajari dari awal di tingkat SMP atau SMA, pemrograman itu sebenarnya tidaklah sulit untuk dipelajari, asal ada ketekunan dan kemauan yang kuat serta menyukai tantangan.

 

Andai waktu bisa diputar, gap inilah yang ingin saya isi. Agar program yang diciptakan untuk pendidikan memang tidak semata hanya melihat pada aspek bisnis saja, melainkan aspek yang paling dalam yakni menanamkan nilai-nilia agama dan moralitas. Kenyataannya dilapangan, aplikasi pendidikan memang lebih cenderung komersil meskipun pada dasarnya memang memudahkan dan memfasilitasi peserta didik untuk belajar lebih maju lagi.

 

Tapi esensinya tidak sekedar itu bagi saya.

 

Maka benar seperti apa yang dikatakan Agus Sampurno dalam sebuah seminar belakangan ini. Dunia pendidikan seperti tidak memiliki inovasi-inovasi untuk mendukung ranah pendidikan itu sendiri. Dunia pendidikan kerap kali meminjam media-media bisnis yang sejatinya memang diperuntukkan untuk kebutuhan bisnis.

 

Sebagai salah satu contoh ia memberikan gambaran bahwa awal pembuatan Ms. Office bukanlah untuk memudahkan kalangan pendidikan, melainkan kalangan bisnis. Inilah yang di istilahkan oleh Agus Sampurno bahwa dunia pendidikan kerap meminjam media yang sejatinya bukan diciptakan untuk dunia pendidikan.

 

***

Boleh jadi saya memang bukan pembelajar yang sangat gigih sehingga terkadang juga bisa menyerah ketika mendapatkan sebuah masalah rumit saat itu. Memang, Google saat itu belum begitu dikenal sebagai search engine yang serba tahu. Saat ini apa pun pertanyaan yang muncul dikepala, yang pertama kali diingat adalah mbah Google.

 

Begitulah ketergantungan saya terhadap sebuah search engine. Ketidakberdayaan itu justru tidak bisa di bagi karena saat itu belum ada social media dimana kita bisa curhat dan di waktu yang bersamaan bisa mendapatkan belas kasih dari teman lain yang sudah mengetahui solusi dari kesulitan yang saya alami.

 

Social media kerap saya anggap sebagai alternatif kedua setelah gagal mendapatkan jawaban melalui mbah Google.

 

Dengan lompatan-lompatan dan pengalaman-pengalaman itu, saat kuliah bahkan setelah bekerja, dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi, saya dianggap memiliki kemampuan diatas rata-rata, berkat internet. Tak bisa di mungkiri juga pengetahuan saya tentang dunia ICT membantu karir saya dalam dunia kerja. Disaat yang lain masih berkutat dengan Word, saya sudah melambung jauh berkutat dengan Wordpress. Inilah mukjizat sebuah search engine yang menjadikan kita serba tahu.

 

Semakin banyak pengetahuan yang saya tahu, bukan berarti saya menjadi pelit berbagi. Justru dengan berbagi itulah orang lain, rekan kerja, menjadi tahu kemampuan kita sejauh mana. Disaat mereka tidak bisa mendapatkan solusi dari kesulitan yang mereka hadapi, saya kerap dianggap sebagai “kamus berjalan” yang tahu segala kesulitan mereka.

 

Emosi seperti itu membuat saya merasa bahagia karena selalu di butuhkan oleh orang lain. Saya bahkan tak sungkan untuk mengajarkan mereka cara menggunakan search engine, tapi memang dasar sifat manusia yang lemah, mereka lebih suka yang instan dengan bertanya pada saya. Lebih simple katanya. Tantangan untuk problem solving itulah yang gagal mereka hadapi, sementara bagi saya, mencari solusi atas kesulitan orang lain itu justru menambah pengetahuan saya dalam bidang teknologi.

 

Ada hal menarik mengapa saya di tunjuk menjadi guru TIK di sekolah yang saat ini saya mengabdi. Ketika menggali rumus fungsi H-LOOKUP dan V-LOOKUP ternyata saya mampu membuat sebuah database rapor khusus untuk rapor bayangan atau rapor ujian tengah semester. Saya menganggap itulah alasan sederhana mengapa saat ini pun saya dilibatkan untuk mengajar bidang studi komputer atau TIK di sekolah.

***

Dari berbagai pengalaman itu saya menyadari bahwa peran teknologi tidak bisa dipisahkan dengan dunia pendidikan khususnya. Adalah hal yang tidak masuk akal ketika menghilangkan mata pelajaran TIK di sekolah. Saya tidak ingin generasi mendatang mengalami gap teknologi sehingga tidak memahami dasar-dasarnya secara paripurna. Dasar yang diajarkan saat ini memang mungkin tidak digunakan lagi di masa mendatang, tapi dari situlah ibarat sebuah bangunan, fondasinya akan kokoh menopang sebuah bangunan sepanjang masa. Inilah yang perlu dipahami oleh para penentu kebijakan.

 

Langkah untuk menghapus mata pelajaran TIK bisa jadi karena semakin banyak siswa yang pintar dan cerdas serta mahir dalam menggunakan komputer. Bagi mereka yang gaptek, generasi digital ini dianggap sebagai ancaman, mereka adalah bencana bagi karir para penentu kebijakan di masa depan. Di beberapa instansi bahkan di sekolah, generasi yang lebih senior kerap kali gagal dalam memahami kemajuan teknologi. Gap inilah yang membuat kesenjangan antara generasi digital native dan digital immigrant.

 

Jika saja para kaum digital immigrant ini bisa memahami kebutuhan dan kemajuan teknologi di masa mendatang, tentu yang harus mereka lakukan adalah mengarahkan dan mengembangkan bakat dan potensi para digital native agar lebih diberdayakan untuk manfaat nusa dan bangsa minimal untuk dirinya sendiri. Saya tentu saja tidak ingin bahkan tidak rela jika anak-anak kehilangan kesempatan untuk memelajari teknologi. Ini akan menjadi bencana bagi generasi di masa mendatang. Penguasaan teknologi dunia terus berkembang, jika kita menghapusnya dalam mata pelajaran, maka kiamat lah sudah generasi-generasi penerus bangsa yang seharusnya menjadi pemimpin dunia. Kita akan terus menerus di jajah dan di jajah. Kita akan selamanya menjadi kaum konsumtif yang hanya bisa memakai dan menghabiskan tanpa menyadari bahwa bahan dan sumber daya yang ada diambil dari perut bumi kita sendiri.

 

Oleh karena itu saya menuntut pemerintah untuk menghadirkan kembali mata pelajaran TIK di sekolah. Hal ini bukan semata-mata guru-guru yang telah tersertifikasi melalui jalur mata pelajaran TIK. Bukan semata hal tersebut, melainkan demi mengembangkan dan memajukan generasi muda agar bisa bersaing di kancah dunia Internasional.

 

Kita berhadap akan muncul Steve Jobs asli Indonesia bahkan Bill Gates Indonesia yang menjadi dua ikon raksasa dunia yang sampai saat ini produknya di gunakan oleh jutaan manusia.

 

Apakah anda tidak pernah bermimpi lahir pemimpin-pemimpin berpotensi dari Indonesia?

 

Pemerintah justru hendaknya memfasilitasi para guru untuk terus belajar teknologi agar tidak tertinggal dengan murid-muridnya. Pemberian sertifikasi bisa saja dapat dirubah menjadi pemberian beasiswa. Setelah menempuh masa pendidikan formal strata satu dan minimal strata dua, barulah para guru dapat menikmati insentif sertifikasi untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Bukan dibalik seperti kenyataannya di lapangan saat ini. Sejahtera dulu, tapi melupakan upgrading diri sendiri.

 

 


TAGS tik matpel tik guru tik save tik


-

Author

Follow Me